Pagi-pagi tadi, di traffic light Rampal, tepat disampingku 2 orang berboncengan. Dua-duanya merokok. Asapnya menyembur ke mukaku. Reflek kumajukan Mio-ku untuk menghindari biang penyakit itu. Di depan, tak sampai 2 meter di sebelah kananku seorang bapak merokok juga. Dan setelah menghembuskan racun terakhir kali, ia buang pula puntung rokok itu sembarangan!!! Sudah menyakiti badan, membuat sakit orang, masih buang sampah seenaknya.
Sampai detik ini dan sampai kapan pun aku tak mengerti kenapa orang merokok. Kalau begitu, merokok aja biar tahu kenapa orang merokok. Ooo maaf, sama donk dengan kenapa banyak orang bunuh diri, lha kalau begitu bunuh diri aja, biar tahu rasanya!
Di satu sisi, bagi yang berekonomi ngepres alias pas-pasan, istri sibuk mencukup-cukupkan uang untuk belanja sehari-hari, menyisihkan dana untuk sekolah anak, tak pernahlah terpikirkan. Bahkan, mungkin pikirnya lebih baik anaknya tidak minum susu daripada tidak merokok. Beberapa waktu lalu saya membaca artikel di sebuah surat kabar bahwa banyak anak kurang gizi karena orang tuanya merokok. Karena mereka memilih membeli rokok daripada memberi makanan bergizi untuk anaknya. Satu lagi kan mudharatnya, bikin orang jadi egois! Belum lagi bau mulut yang membuat mual.
Berbagai pencerahan, mulai 1001 racun yang terkandung di dalamnya, ratio penyakit dan kematian yang diakibatkannya, efek perokok pasif bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan fatwa MUI pun tak mampu menghentikannya.
Hanya satu yang bisa menghentikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar