Jelang pk 13.00 kemarin saya 'berjumpa' dengan seorang teman dekat yang sekarang tinggal di benua tetangga melalui situs jejaring sosial yang sekarang sedang 'booming' dan digandrungi banyak orang. Tak kenal tua, tak kenal muda. Tulisnya di jendela obrolan, " Mbak, disini FB banyak membawa korban...". "Korban?". "Iya, banyak rumah tangga hancur.."
Wow..! seru saya dalam hati. Saya sendiri mengakui kalau FB yang juga saya gandrungi ini membawa virus. Virus yang juga telah menjangkiti kehidupan saya. Tapi mungkin masih dalam masa inkubasi...
Saking gandrungnya, untuk aktivitas baru ini saya rela 'dipermainkan' sales speedy karena memberi paket office di rumah saya. Tapi saya masih rasional, karena kemudian akses speedy itu saya putuskan. Walaupun untuk itu saya harus mengeluarkan dana lebih banyak lagi untuk mengadakan akses internet yang baru.
Yah singkat kata, kinerja saya di kantor berubah, pola tidur berubah, pola pengasuhan anak berubah, pola kencan (dengan suami lho..) juga berubah, bahkan, pola berpikir juga berubah!!! Bagaimana tidak. Ketika 'bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, teman main...saya seperti ditarik ke masa-masa dimana saya berinteraksi asyik dengan mereka. Dan, memang benar-benar mengasyikkan!. Segala beban yang sedang melanda, seolah sirna. Hidup jadi berwarna, lebih asyik, lebih menggairahkan. Coba tanyakan dokter mana yang bisa memberi resep sekejap mata seperti ini?
Bagi saya yang hampir selalu berjauhan dengan suami, FB jadi jembatan untuk dapat berkomunikasi dan mengetahui kabar pasangan dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan beli pulsa. Bahkan hubungan kami terasa semakin hangat. Jadi kalau saya on line sampai larut malam itu sebenarnya sedang ibadah. Lho kok? Ya begitu, bukankah melayani suami adalah ibadah bagi istri? Disamping itu, malam hari adalah zona bebas dari gangguan anak-anak karena mereka telah pulas tidur. (Maaf Nak, sesungguhnya kalian bukanlah pengganggu). Kalaupun pada prakteknya ketika on line dengan suami, disambi on line dengan teman lain, itu adalah side effect yang menyenangkan.
Namun begitu, godaan perasaan harus diakui saya alami juga. Ketika bertemu dengan 'seseorang' dari masa lalu. Ha ha ha saya takut termasuk yang mudah tergoda! Seorang teman kantor meminta pertimbangan saya, ketika mendapat permintaan pertemanan dari 'mantan'nya. Saya katakan, "Tanya pada hatimu sendiri, apakah bisa menguasai diri atau tidak. Kalau tidak, sebaiknya diabaikan saja". Karenanya ketika itu terjadi pada saya, saya harus memastikan bahwa hati saya bisa 'istiqomah' sebelum mengkonfirmasinya.
Itulah salah satunya kenapa korban berjatuhan...bila tak bisa mengendalikan diri. Lebih rentan lagi terjadi pada pasangan yang hubungannya sedang tidak harmonis. Ngobrol pertama kali mungkin hanya sebagai pelarian, diikuti membanding-bandingkan dst.
Saya jadi teringat masa kecil saya. Saat itu ada demam sosial "ngebreak"(Eh, piye yo nulisnya?) Ya, radio komunikasi yang membuat orang asyik 'mojok' sampai terbawa ke kehidupan nyata. Para bujangan banyak yang dapat pacar bahkan berjodoh sampai ke pelaminan. Tapi banyak juga pasangan menikah yang 'kecanthol' di udara......hingga berpisah.
Mungkin hampir sama fenomenanya. Bedanya teknologi sudah berkembang pesat sehingga daya tarik FB lebih luar biasa.
Belum lagi akibat yang lain, seperti lupa waktu, tapi bukan pikun. Nah!!
Lupa waktu mandi'in dan nyuapin anak, lupa waktu bantu anak belajar, lupa waktu mencuci dan setrika, lupa waktu masak, lupa waktu beresin rumah, lupa waktu sholat, suami mencuri waktu milik istri/anak dst..dst...sehingga pertengkaran dimulai. Dari dipendam dalam hati.....lalu menyindir.....lalu adu mulut.....lalu tak bertegur sapa....lalu......
Sejauh ini saya sedang berada pada titik pengendalian diri yang aman. Karena saya mendengarkan kata hati saya. Kemarin-kemarin harus saya akui, saya telah mencuri waktu perusahaan saya, mencuri waktu anak-anak saya, mencuri waktu sholat saya.....
Akhirnya saya menerbitkan MOU untuk diri saya sendiri. Draf-nya saya simpan dalam hati. Pertamanya susah sekali, habis jarinya selalu gatal pengen connect terus. MOU ini sudah saya jalankan sejak minggu ini, and everything is under control....
Face Book dengan demikian akan bermanfaat bila kita bijaksana dalam menggunakannya. Bahkan, banyak yang memanfaatkannya sebagai ajang bisnis. Dan bagi saya, selain untuk 'ibadah' tadi, saya tidak ingin kehilangan teman-teman dan saudara yang selalu dan selalu saya rindukan. Bertukar kabar, saling mendukung dan mendoakan. Bercanda, elok-elok an? (paling seneng iki) It's OK....
Selama masih dalam batas kewajaran......
So, Face Book...kenapa tidak?
Wow..! seru saya dalam hati. Saya sendiri mengakui kalau FB yang juga saya gandrungi ini membawa virus. Virus yang juga telah menjangkiti kehidupan saya. Tapi mungkin masih dalam masa inkubasi...
Saking gandrungnya, untuk aktivitas baru ini saya rela 'dipermainkan' sales speedy karena memberi paket office di rumah saya. Tapi saya masih rasional, karena kemudian akses speedy itu saya putuskan. Walaupun untuk itu saya harus mengeluarkan dana lebih banyak lagi untuk mengadakan akses internet yang baru.
Yah singkat kata, kinerja saya di kantor berubah, pola tidur berubah, pola pengasuhan anak berubah, pola kencan (dengan suami lho..) juga berubah, bahkan, pola berpikir juga berubah!!! Bagaimana tidak. Ketika 'bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, teman main...saya seperti ditarik ke masa-masa dimana saya berinteraksi asyik dengan mereka. Dan, memang benar-benar mengasyikkan!. Segala beban yang sedang melanda, seolah sirna. Hidup jadi berwarna, lebih asyik, lebih menggairahkan. Coba tanyakan dokter mana yang bisa memberi resep sekejap mata seperti ini?
Bagi saya yang hampir selalu berjauhan dengan suami, FB jadi jembatan untuk dapat berkomunikasi dan mengetahui kabar pasangan dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan beli pulsa. Bahkan hubungan kami terasa semakin hangat. Jadi kalau saya on line sampai larut malam itu sebenarnya sedang ibadah. Lho kok? Ya begitu, bukankah melayani suami adalah ibadah bagi istri? Disamping itu, malam hari adalah zona bebas dari gangguan anak-anak karena mereka telah pulas tidur. (Maaf Nak, sesungguhnya kalian bukanlah pengganggu). Kalaupun pada prakteknya ketika on line dengan suami, disambi on line dengan teman lain, itu adalah side effect yang menyenangkan.
Namun begitu, godaan perasaan harus diakui saya alami juga. Ketika bertemu dengan 'seseorang' dari masa lalu. Ha ha ha saya takut termasuk yang mudah tergoda! Seorang teman kantor meminta pertimbangan saya, ketika mendapat permintaan pertemanan dari 'mantan'nya. Saya katakan, "Tanya pada hatimu sendiri, apakah bisa menguasai diri atau tidak. Kalau tidak, sebaiknya diabaikan saja". Karenanya ketika itu terjadi pada saya, saya harus memastikan bahwa hati saya bisa 'istiqomah' sebelum mengkonfirmasinya.
Itulah salah satunya kenapa korban berjatuhan...bila tak bisa mengendalikan diri. Lebih rentan lagi terjadi pada pasangan yang hubungannya sedang tidak harmonis. Ngobrol pertama kali mungkin hanya sebagai pelarian, diikuti membanding-bandingkan dst.
Saya jadi teringat masa kecil saya. Saat itu ada demam sosial "ngebreak"(Eh, piye yo nulisnya?) Ya, radio komunikasi yang membuat orang asyik 'mojok' sampai terbawa ke kehidupan nyata. Para bujangan banyak yang dapat pacar bahkan berjodoh sampai ke pelaminan. Tapi banyak juga pasangan menikah yang 'kecanthol' di udara......hingga berpisah.
Mungkin hampir sama fenomenanya. Bedanya teknologi sudah berkembang pesat sehingga daya tarik FB lebih luar biasa.
Belum lagi akibat yang lain, seperti lupa waktu, tapi bukan pikun. Nah!!
Lupa waktu mandi'in dan nyuapin anak, lupa waktu bantu anak belajar, lupa waktu mencuci dan setrika, lupa waktu masak, lupa waktu beresin rumah, lupa waktu sholat, suami mencuri waktu milik istri/anak dst..dst...sehingga pertengkaran dimulai. Dari dipendam dalam hati.....lalu menyindir.....lalu adu mulut.....lalu tak bertegur sapa....lalu......
Sejauh ini saya sedang berada pada titik pengendalian diri yang aman. Karena saya mendengarkan kata hati saya. Kemarin-kemarin harus saya akui, saya telah mencuri waktu perusahaan saya, mencuri waktu anak-anak saya, mencuri waktu sholat saya.....
Akhirnya saya menerbitkan MOU untuk diri saya sendiri. Draf-nya saya simpan dalam hati. Pertamanya susah sekali, habis jarinya selalu gatal pengen connect terus. MOU ini sudah saya jalankan sejak minggu ini, and everything is under control....
Face Book dengan demikian akan bermanfaat bila kita bijaksana dalam menggunakannya. Bahkan, banyak yang memanfaatkannya sebagai ajang bisnis. Dan bagi saya, selain untuk 'ibadah' tadi, saya tidak ingin kehilangan teman-teman dan saudara yang selalu dan selalu saya rindukan. Bertukar kabar, saling mendukung dan mendoakan. Bercanda, elok-elok an? (paling seneng iki) It's OK....
Selama masih dalam batas kewajaran......
So, Face Book...kenapa tidak?