Tak biasanya tangan kekar itu tak meraih tanganku untuk memeluknya. Disaat motor tua mengantar kami menyusuri sepanjang jalan penuh bunga. Paduan warna serasi bergradasi sepanjang mata memandang di taman yang dibanggakan ribuan warga kota ini, bahkan warga mancanegara, tak mampu memecah kebekuan ini.
Kegundahan semakin dalam kala tak biasanya tuturnya tak juga menyapa, sekedar mengingatkan untuk merawat diri. Diacuhkannya aku dalam kebisuan yang memilukan. Kenapa begitu sakit ketika diam menyiksa hati. Dan kaupun pergi. Tanpa berkata-kata lagi.
Maka mulailah bulir-bulir hangat tumpah dari sumber mata air...mengalir tak terbendung lagi. Kau tak peduli...
Kupandangi dinding biru begitu angkuh, dingin, tak bersahabat lagi. Tak lagi menawarkan birunya cinta dan kehangatan. Kasur dan bantal nan empuk tak juga nyaman menahan tubuh ini agar berada pada posisi yang nyaman untuk terpejam. Biarlah bila mata ini terbuka, ku tarik kelegaan karena menyadari semuanya hanyalah mimpi. Tidak, tidak ada yang berpihak padaku.
Begitu sakitnya kah hingga kau biarkan waktu yang bak permata berlalu sia-sia. Waktu ketika tanpa tirai pembatas kita bisa saling menyentuh di kedalaman hati yang merindu. Sedalam apakah? Berdarah dan tak tersembuhkan? Tak biasanya...pikirku terpaku pilu.
Pukul sembilan malam....
Deru mesin motor tua memecah hanyutnya kepiluan hati. Derit pintu pagar terbuka menggerakkan punggung telapak tangan mengusap bulir-bulir di pipi. Mungkinkah secepat itu dia datang? Apa yang menggerakkannya pulang? Menyadari kekeliruan yang terjadi? Ada setitik harapan yang sepertinya terlalu dipaksakan. Sesegera mungkin aku berdiri, membuka kunci pintu dan berlari masuk kamar lagi, mengharap cemas ada sekedar sapa yang menyejukkan hati.
"Om Toto dan Bu Wina mau datang, bikinkan minuman" begitu kalimat pertamanya ketika memasuki ruang tengah, memberi instruksi kepada Ponirah. Hancur hatiku. Tak biasanya, dia meminta ke selain aku. Semakin tenggelamlah aku dalam sayatan sembilu.
Pukul sebelas malam....
Bahkan ketika yang dinanti datang, tak ada secuilpun ajakan tuk menemui tamunya. Tak biasanya. Gontai kuraih selembar kain merah muda, kukenakan tanpa semangat. Mata sembab terasa berat kubiarkan saja tanpa basuhan tuk sekedar menyamarkan sisa-sisa kepedihan. Toh ini sudah malam, dan aku bisa beralasan telah sempat tidur sebelum mereka datang.
Bukan aku, jika membawa persoalan pribadi dalam ranah sosial. Dan sandiwara pun dimulai. Perlahan kubuka pintu dan kutemui tamu dengan senyum terberat yang pernah kurasakan. Obrolan pun mengalir, seolah tak sedang ada prahara membara di dalam dada.
Tepat pukul dua belas malam...
Sang tamu dipersilahkan sekedar melepaskan lelah di separo malam yang tersisa. Sisa malam yang menentukan perjalanan kebekuan hati. Keheningan mengantarku ke peraduan.
"Tidurlah di sini..."
Itulah kata pertama sejenak dia merebahkan diri. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan tempat disisinya. Rupanya dia menghargai upayaku menemui tamu, karena sangat mudah membuat alasan untuk tidak melakukannya. Dan itu cukup baginya untuk meyakinkan bahwa aku selalu menghargainya, menghormatinya, tak pernah dan tak bermaksud meniadakannya.
Ada kegamangan sampai disini. Berlanjut, atau berhenti. Setidaknya ada upaya mengakhiri. Ahh tak ada gunanya mempersulit keadaan. Kurapikan rambut dengan jari sebelum kurebahkan tubuhku di sisi lengannya. Menatap langit-langit.
Terdengar desah napas panjang seolah tengah melepaskan beban yang demikian berat, sebelum tubuhnya berputar menghadapku. Jemarinya lembut mengusap wajahku yang tetap saja beku. Perlahan bulir-bulir hangat kembali mengalir..."Kau tak marah lagi?" Diraihnya tubuhku dalam rengkuhan swarga warna pitaloka. Selendang pelangi bidadari menyibak sang malam. Gemericik air di kolam samping melagukan gurindam puspita hati. Bintang-bintang menari, cahayanya menembus jantung hati. Sisa malam pun berlalu penuh arti.
Pukul tujuh pagi....
Mengantar tamu pergi, dengan senyuman terindah yang pernah kumiliki.
Deru mesin motor tua memecah hanyutnya kepiluan hati. Derit pintu pagar terbuka menggerakkan punggung telapak tangan mengusap bulir-bulir di pipi. Mungkinkah secepat itu dia datang? Apa yang menggerakkannya pulang? Menyadari kekeliruan yang terjadi? Ada setitik harapan yang sepertinya terlalu dipaksakan. Sesegera mungkin aku berdiri, membuka kunci pintu dan berlari masuk kamar lagi, mengharap cemas ada sekedar sapa yang menyejukkan hati.
"Om Toto dan Bu Wina mau datang, bikinkan minuman" begitu kalimat pertamanya ketika memasuki ruang tengah, memberi instruksi kepada Ponirah. Hancur hatiku. Tak biasanya, dia meminta ke selain aku. Semakin tenggelamlah aku dalam sayatan sembilu.
Pukul sebelas malam....
Bahkan ketika yang dinanti datang, tak ada secuilpun ajakan tuk menemui tamunya. Tak biasanya. Gontai kuraih selembar kain merah muda, kukenakan tanpa semangat. Mata sembab terasa berat kubiarkan saja tanpa basuhan tuk sekedar menyamarkan sisa-sisa kepedihan. Toh ini sudah malam, dan aku bisa beralasan telah sempat tidur sebelum mereka datang.
Bukan aku, jika membawa persoalan pribadi dalam ranah sosial. Dan sandiwara pun dimulai. Perlahan kubuka pintu dan kutemui tamu dengan senyum terberat yang pernah kurasakan. Obrolan pun mengalir, seolah tak sedang ada prahara membara di dalam dada.
Tepat pukul dua belas malam...
Sang tamu dipersilahkan sekedar melepaskan lelah di separo malam yang tersisa. Sisa malam yang menentukan perjalanan kebekuan hati. Keheningan mengantarku ke peraduan.
"Tidurlah di sini..."
Itulah kata pertama sejenak dia merebahkan diri. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan tempat disisinya. Rupanya dia menghargai upayaku menemui tamu, karena sangat mudah membuat alasan untuk tidak melakukannya. Dan itu cukup baginya untuk meyakinkan bahwa aku selalu menghargainya, menghormatinya, tak pernah dan tak bermaksud meniadakannya.
Ada kegamangan sampai disini. Berlanjut, atau berhenti. Setidaknya ada upaya mengakhiri. Ahh tak ada gunanya mempersulit keadaan. Kurapikan rambut dengan jari sebelum kurebahkan tubuhku di sisi lengannya. Menatap langit-langit.
Terdengar desah napas panjang seolah tengah melepaskan beban yang demikian berat, sebelum tubuhnya berputar menghadapku. Jemarinya lembut mengusap wajahku yang tetap saja beku. Perlahan bulir-bulir hangat kembali mengalir..."Kau tak marah lagi?" Diraihnya tubuhku dalam rengkuhan swarga warna pitaloka. Selendang pelangi bidadari menyibak sang malam. Gemericik air di kolam samping melagukan gurindam puspita hati. Bintang-bintang menari, cahayanya menembus jantung hati. Sisa malam pun berlalu penuh arti.
Pukul tujuh pagi....
Mengantar tamu pergi, dengan senyuman terindah yang pernah kumiliki.