Selasa, 26 Mei 2009

Ketakutanku

Dulu, waktu masih lajang aku sering ketakutan memikirkan tanggung jawab sebagai seorang ibu...

Melahirkan, katanya sangat sakit. Tapi hampir semua wanita bisa melaluinya. Jadi rasa sakit itu pasti terabaikan oleh yang namanya rasa bahagia setelah sang buah hati menyapa dengan mata malaikatnya. Membesarkan? Ah, ini hanya membutuhkan sejumlah materi. Tidak ada anak yang tidak tumbuh, tidak ada orang yang mati hanya karena lapar. Allah telah menyediakan sumber penghidupan yang lengkap dan tanpa batas. Tinggal bagaimana kita berupaya. Tapi mendidiknya? Mampu-kah aku mendidiknya, membuatnya menjadi insan yang tidak sia-sia? Memikirkannya, seringkali membuatku takut...takut sekali!

Akhirnya aku menikah, lalu melahirkan. Ah, sekarang anakku sudah dua.

Bagiku, tidak ada yang lebih sakit dibandingkan rasa sakit yang kurasakan saat melahirkan. Yah begitu yang selalu kurasakan. Untuk anak pertamaku, dia hanya mau lahir setelah 3 kali pindah tempat bersalin. Itupun, dengan cara Caesar, setelah proses melahirkan normal tidak berhasil. Karena tidak berencana Caesar, tentunya aku melalui rasa sakit akibat proses 'pembukaan' yang telah berjalan. Jangan dikira melahirkan Caesar lebih 'enak' dari melahirkan normal. Selain resiko yang lebih tinggi, biaya tinggi, bagiku 'proses'nya kurasakan seperti maaf, sapi mau dipotong. Akhirnya lahirlah dia, tepat ketika jam dinding di atas pintu ruang operasi menunjukkan pukul 19.01. Bayi perempuan, cantik, putih bersih dengan mata bening dan rambut hitam bagai malam.

Enam tahun kemudian baru aku melahirkan lagi.

Aku sangat trauma dengan proses melahirkan anak pertamaku. Tapi aku menanamkan keyakinan bahwa kali ini aku harus berhasil melahirkan secara normal. Jarak yang lama dari proses melahirkan yang pertama, menyebabkan proses melahirkan kedua ini sama seperti yang pertama. Aku hampir saja menyerah bila tidak ingat pada keinginan yang kuat untuk melahirkan secara normal. Alhamdulillah, bisa kulalui, walaupun untuk itu aku dibantu seorang yang ahli dibidang pengalihan rasa sakit (hipnotis).

Membesarkan anak? Aku sangat memperhatikan makanan anak-anak. Aku lebih suka memasak sendiri daripada membeli. Kebersihan dan gizi lebih terjaga. Sejauh ini, Alhamdulillah, pertumbuhan anak-anak sangat bagus. Mereka juga tidak pernah mengalami sakit yang serius.

Dan ini yang selalu kutakutkan, mampukah aku mendidik mereka?

Sekolah? pasti. Bisakah mengandalkan sekolah untuk sesuatu yang sangat penting ini? Sekolah hanyalah formalitas belaka. Apalagi dengan sistem pendidikan yang lebih di'set' untuk mencetak angka. Tentu tidak bisa mengandalkan sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab orang tua.

Tetap saja hingga hari ini aku masih takut bila gagal mendidik anak-anak. Takut bila suatu ketika aku terlalu sibuk hingga aku lupa menstimulasi Adek. Takut bila suatu ketika aku salah menjawab pertanyaan kritis sang kakak. Takut bila suatu ketika aku lalai telah memberi contoh yang tidak benar. Takut bila suatu ketika aku tanpa sengaja mematikan keberanian/kreativitasnya. Takut.....takut....

Ya Allah, berilah hamba kekuatan. Amin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar