Selasa, 01 Maret 2011

Sebuah Catatan Perjalanan Hati

Sisir merah ini kusapukan pelan ke rambutku yang terurai sebahu. Beberapa helai rambut tercerabut dari akarnya. "Lihatlah aku..." bisik helai rambut diantara jari-jari sisir itu. Aku mengarahkan mataku memandangnya. Sejurus kemudian ujung alisku menyatu, membentuk gurat kernyit di dahi, "Ah, helai rambut ini..."aku mencoba mengingat-ingat, "Helai putih ke berapakah ini yang kutemukan...?"

Tubuh ini bagaikan kapas tak bermassa yang bila tanpa grafitasi bumi pastilah telah melayang entah kemana, dan langkahku telah membawaku persis di depan sebuah benda. Pantulan cahaya telah membuat bola mataku menangkap sebuah bayangan pada benda itu. Bayangan seorang perempuan yang disebut AKU.

Tidak, kenapa tak bisa kulihat dengan jelas bagian demi bagian bayangan perempuan itu? Dengan cepat mataku mencari jendela. Darinya aku memastikan cahaya telah tak terbatas menyinari ruang ini, hingga tak ada alasan bayangan pada benda disebut cermin itu menjadi tidak jelas terlihat. Aku menutup wajahku dengan kesepuluh jariku. Ya, jemari tanganku masih sepuluh. Kupandangi kesepuluh jariku. Seperti ada yang berubah. Ada garis-garis halus di perbatasan lingkar masing-masing kuku. Garis-garis yang bisa bercerita, cerita tentang apa yang pernah dilakukannya.

Kubawa jemariku mengusap cermin di hadapanku. Terasa sesuatu yang pekat menempel di jemariku. Debu. Debu yang pasti telah bersarang di hatiku selama hampir 40 tahun usiaku. Berapa lama aku tidak membersihkannya hingga aku tak bisa dengan jelas memandangi bayangan diriku?

Refleks sebuah rangkaian gerakan membasuhkan debu di jemariku ke sudut-sudut muka dan bagian demi bagian lenganku. Kubasuh hatiku.

Sekarang aku bisa melihat perempuan itu. Perempuan berkulit sawo matang berwajah oval yang sepertinya telah mengalami perubahan dibeberapa titik.

Wajah oval itu, aku masih bisa mengingatnya di hampir 27 tahun yang lalu. Matanya yang bulat dan bening selalu menunduk bila berjalan di sepanjang koridor sekolah, sangat malu memandangkan matanya walau hanya sekedar untuk melihat jalan yang dilalui. Sesekali pipinya yang halus memerah bila tak sengaja bertemu pandang dengan seseorang dari kelas satu tingkat di atas kelasnya. Untuk pertama kalinya hatinya bergejolak untuk apa yang dinamakan cinta. Cinta yang indah walau tak sempat termiliki.

"Heii.." bayangan di cermin itu menepuk pipiku, "Lihatlah mata di dalam bayangan itu tak lagi bening dan pipi itu tak halus lagi!" Bibir di bayangan itu tersenyum terpaksa, menampakkan dengan jelas kerut halus di lingkar bibir dan sudut ekor matanya.

Mata hatiku bergerak menelusuri segenap tubuh fana ini menyusuri menelanjangi benarkah ada sebuah rasa tak asing yang dulu pernah singgah. Sebuah rasa berwarna jingga, yang menyalakan semua tombol dalam tubuh dan jiwa, mengalirkan berjuta partikel & molekul menjadi liar tak terkendali. Aku masih berhak atas rasa itu. Berikan hanya jinggamu padaku agar debu tak lagi menyelimuti cerminku.

"Gigimu telah tanggal satu!" tiba-tiba hatiku menghentikan jantung yang berdegup kencang, setengah lelah mencari jawaban atas sebuah rasa "Yah, gigimu telah tanggal satu".

"Tapi aku ingin, jadi berikan hanya jinggamu...padaku!"