Aku tertegun di pekarangan belakang rumah. Ada lima pohon pisang yang sedang berbuah. Pemandangan ini persis sama seperti dalam mimpiku beberapa bulan yang lalu. Ada satu pohon pisang yang sudah siap panen, si pisang kepok. Pisang yang batang pohonnya paling kekar diantara jenis pisang yang lain ini termasuk pisang yang paling mahal di pasaran. Aku sempat menuliskan mimpiku itu dalam 'status' facebook. Aku berharap mimpiku itu pertanda baik. Bukan percaya tahayul atau klenik tapi boleh kan berharap baik, bukankah memanen buah itu suatu hal yang baik? Selebihnya tentu hanya Allah SWT yang Maha Menentukan Segala Sesuatu.
Tentu saja aku sangat berharap sesuatu yang baik akan segera terjadi dalam kehidupan keluarga kami. Setelah kesabaran panjang yang harus kami lalui selama ini. Tugas belajar suami, memaksa kami tinggal berjauhan, dan tentu saja berimbas ke perekonomian kami. Banyak sekali dukanya. Tak perlulah kusampaikan kedukaan kami, biarlah melengkapi keikhlasan kami dalam menjalani semua ini. Toh, menuntut ilmu adalah hal yang mulia.
Ketika suami berhasil menyelesaikan studi, pisang kepok di pekarangan rumah itu belum menunjukkan tanda-tanda siap dipanen seperti dalam mimpiku. Daging buahnya belum berisi, sepertinya masih sangat muda. Sementara itu, selesai tugas belajar suami segera menghadap pejabat tertinggi di jajaran instansinya, di ibukota. Pengarahan segera digelar dan hasilnya, para Master ini harus menjalani masa orientasi dulu di Pusat, tak tahu sampai kapan, tanpa fasilitas, dan tanpa kriteria penilaian. Biyuhhh! semakin compang campinglah kami. Yahhh, ternyata 'pisang kepok'nya benar belum siap dipanen!!!
Tentu saja aku sangat berharap sesuatu yang baik akan segera terjadi dalam kehidupan keluarga kami. Setelah kesabaran panjang yang harus kami lalui selama ini. Tugas belajar suami, memaksa kami tinggal berjauhan, dan tentu saja berimbas ke perekonomian kami. Banyak sekali dukanya. Tak perlulah kusampaikan kedukaan kami, biarlah melengkapi keikhlasan kami dalam menjalani semua ini. Toh, menuntut ilmu adalah hal yang mulia.
Ketika suami berhasil menyelesaikan studi, pisang kepok di pekarangan rumah itu belum menunjukkan tanda-tanda siap dipanen seperti dalam mimpiku. Daging buahnya belum berisi, sepertinya masih sangat muda. Sementara itu, selesai tugas belajar suami segera menghadap pejabat tertinggi di jajaran instansinya, di ibukota. Pengarahan segera digelar dan hasilnya, para Master ini harus menjalani masa orientasi dulu di Pusat, tak tahu sampai kapan, tanpa fasilitas, dan tanpa kriteria penilaian. Biyuhhh! semakin compang campinglah kami. Yahhh, ternyata 'pisang kepok'nya benar belum siap dipanen!!!
Tak terasa enam bulan berlalu. Lebaran segera menjelang. Terngiang pesan ibuku, "An, kalau menjelang mudik lebaran nanti pisang kepoknya sudah bisa dipanen, dibawa ke Madiun ya". Tak terbayang senangnya bisa membawa oleh-oleh hasil pekarangan sendiri. "Inggih" jawabku optimis. Bukan tanpa alasan kalau aku menjawab se-optimis itu, karena menurut pembantuku yang pakar perpisangan, pisangnya ini akan tua pada saat bulan puasa. Itu disampaikannya pada saat tuntut (bunga pisang) sudah najin (tanda siap dipotong untuk memberi ruang dan kesempatan buah pisang bertambah besar).
Dua hari lalu suami pulang tanpa membawa selembar keputusan pun, padahal review menunjukkan hasil perfect. Aku menarik nafas panjang, yaaa yang sabaaar. Yang penting janganlah pernah kehilangan harapan.
Kemarin sore, menjelang berbuka kami berdua terlibat percakapan sambil mengamati buah pisang kepok itu.
Menurut suami : "Pisangnya belum siap dipanen, karena masih ada bunga kering diujung buah pisang dan tangkai tundunnya belum berwarna gelap"
"Tapi menurut yangkung, kalau kitir (daun paling dekat tundun) sudah kering, itu tandanya sudah tua," sanggahku.
Tanpa menghiraukan sanggahanku suami menimpali, "Kayaknya ini baru siap dipanen bulan Oktober" setengah bergumam.
Waduh, padahal tiga hari lagi kami Insya Allah sudah mudik! Piye iki?
Oktober, berarti tujuh bulan semenjak suami lulus. Berarti setelah lebaran. Dan itu berarti pulang ke Madiun tanpa membawa pisang! Wahh!!!
Aku melingkarkan kedua lengan tangan di leher suamiku, lalu kusampaikan pada suamiku pelan, "Mas, pisang itu bisa dipanen nunggu Mas dilantik, persis seperti dalam mimpiku"
Ha Ha Ha Ha Ha ...
("Kalau begitu, kita beli pisang kepok aja di pasar untuk dibawa mudik.........")
Tidak ada komentar:
Posting Komentar